e.r.i.c.s.a.m on media

'a shelter' by: a little journalist

My Photo
Name:
Location: Jakarta,, DKI Jakarta, Indonesia

I am originally from Indonesia. I was a journalist and a construction supervisor for Oil and Gas Company. Now, I am an employee of IT company in Jakarta (ga nyambung ya?hihihi). I currently reside in East Jakarta I hope there is more than 24 hours in a day. Because, I do not think that I have done a lot for my life and for everyone around me. These are my words, memories, experiences, and feelings that I intend to share in these pages. Please enjoy your self...

Saturday, December 24, 2005

Berjaga di Garis Perbatasan

Image Hosted by ImageShack.us
OPICK
Imam Sukamto/Gatra

SELAIN Jefri Al-Buchori, yang meroket pada Ramadan ini adalah Aunur Rofik Lifirdaus, akrab dipanggil Opick. Ketenaran keduanya dimanfaatkan sebuah perusahaan suplemen sebagai bintang iklan. Meski berbeda --Jeffry beken sebagai da'i dan Opick sebagai musikus-- keduanya senapas. "Kami lagi berjaga-jaga di garis perbatasan," kata pria kelahiran 16 Maret 1974 itu.

Ia membandingkan dirinya dengan Raihan, yang disebutnya banyak ditujukan kepada orang yang sudah berada "di dalam masjid". Musiknya sebaliknya. Ia ingin mengundang yang di luar, yang pemahaman Islamnya masih kurang untuk masuk. Dengan memilih peran seperti itu, "isi" bukanlah sesuatu yang utama. Yang terpenting, bagaimana "komunikasi" bisa dibangun.

Lagu-lagu Opick kini banyak dipakai sebagai lagu tema sinetron "dalam rangka" Ramadan di berbagai stasiun televisi. Toh, ia masih bingung, apakah musiknya Islami atau bukan. "Saya dipanggil nasyid mualaf," katanya. Ia menegaskan tak mau terjebak dalam pengategorian seperti itu.

Kata dia, jika terus-menerus memperdebatkan musik Islami seperti apa, nantinya tak ada yang mau bermain musik. Ia menganalogikan musik layaknya pisau: bisa digunakan untuk hal-hal yang baik, bisa juga sebaliknya. "Musik religi macam yang dibawakan Raihan memang bisa menyentuh. Tapi hardcore juga bisa menyentuh," ia menegaskan.

Sama seperti Jeffry, Opick kini kebanjiran order. Undangan manggung di luar negeri berdatangan. Seperti Berlin, Hamburg, dan tur di beberapa kota Asia. Rencananya, Opick akan membuat konser pada tahun depan. Paling tidak, lima kota besar akan disambanginya. Hanya saja, ia masih menemui kendala untuk mewujudkannya. Terutama mencari personel band pendukung.

Sukses Opick di jalur gambus sudah diramalkan orang pintar di kampung halamannya di Jember, Jawa Timur, ketika Opick masih duduk di bangku sekolah menengah. Opick saat itu hanya tertawa. Sukses di jalur musik memang jadi cita-citanya. Tapi tidak dalam aliran itu. "Lha, wong gue main di (aliran) rock n roll, kok," katanya.

Ternyata orang pintar itu betul. Setelah menamatkan SMA pada 1992, Opick merantau ke Jakarta. Dia ingin mengibarkan namanya di panggung rock n roll. Berbagai demo album sampai album beneran dibuat, hasilnya tak ada. Malah, ketika menawarkan ke sebuah produser, ia ditolak dengan cara yang tak bisa dilupakannya. "Lagu kamu bagus. Tapi tampang kamu kurang Syahrul Gunawan," kata orang itu, seperti dituturkan Opick kembali kepada Gatra. Untuk mengongkosi hidupnya, dia memberi les vokal dengan bayaran alakadarnya.

Di ujung asa, pada 2004, Agus Idwar, personel grup nasyid Snada, lewat A&R Forte Records menawari suami Dian Firdaus itu untuk menyanyikan Tombo Ati dalam album kompilasi "Tausyiah Dzikir dan Nasyid Ustadz Arifin Ilham". Opick diminta megaransemen ulang agar beda dengan yang pernah dibawakan Emha Ainun Nadjib lewat Kyai Kanjeng.Tombo Ati adalah tembang yang kerap dibawakan Sunan Kalijaga saat menyebarkan Islam di Jawa. Konon, tembang itu merupakan saduran dari syair Ali bin Abi Thalib. Bocah-bocah kerap melantunkannya selepas azan di surau-surau. Budaya menyanyikan pujian saat "menunggu" imam itu lazim mewarnai musala di pedesaan Jawa.

Opick diminta mengaransemen ulang. Tawaran itu tidak langsung diterima. "Berat! Secara perilaku, saya belum ke arah situ," kata Opick mengenang. Untuk memutuskan itu, Opick mendiskusikannya dengan beberapa ulama. Setelah diberi nasihat, akhirnya ia memutuskan untuk menerimanya. "Saya nggak menyangka kalau Tombo Ati bisa disukai," kata Opick.

Lagu itu menjadi populer setelah dijadikan lagu tema Ramadan pada 2004 di salah satu stasiun televisi. Publik menyukai lagu itu tanpa tahu sosok yang menyanyikannya. Opick pernah punya pengalaman ketika naik panggung "Pesta'' Indosiar. Itulah penampilan perdananya di depan publik. Tidak seorang pun memperhatikannya. Orang seakan saling berbisik dan bertanya, "Siapa sih orang yang di atas panggung itu." Tapi semua berubah ketika Opick mendendangkan Tombo Ati di depan mereka.

Lagu itu kini menjadi andalan album ''Istighfar'' yang mengguncang blantika musik Tanah Air. Petikan lagu itu banyak menghiasai tayangan televisi, diputar di mal-mal, pusat pertokoan, radio-radio, bahkan di ringtone telepon genggam. Alexandria yang dilantunkan Peterpan pun lewat. Padahal, grup musik asal Bandung itu tengah moncer-moncer-nya. Sejak memasuki Ramadan, album Opick menyalip penjualan album Peterpan, "Alexandria".

Sejak diluncurkan pada Juni 2005, ternyata album religius itu sudah menembus penjualan 410.000 keping. Atas perolehan yang cukup tinggi itu, Opick berhak menggondol double-platinum yang diserahkan label Nadahijrah (Forte Records) di Tee Box Resto, Jakarta, awal Oktober silam. ''Saya surprised, gembira dan terharu. Apalagi saya mendapat platinum,'' katanya.

Dalam merilis albumnya, Opick menggandeng musisi kawakan. Seperti Gito Rollies yang berkolaborasi dalam Cukup Bagiku. Dia juga berduet dengan Ustad Jeffry Al-Buchori, membawakan Ya Robbana. Penyanyi cilik Amanda juga diajaknya melantunkan Alhamdulillah.

Setelah populer, Opick terbebani dengan perlakuan orang yang dianggapnya berlebihan. Dari memanggil namanya dengan embel-embel ustad atau syekh sampai cium tangan segala. "Saya hanya mau mengolah sebaik-baiknya apa yang sudah saya dapat. Tidak mau muluk-muluk dan banyak mimpi," katanya.

Ia mengaku lebih rileks menjalani hidup setelah menjadi penyanyi religi. Rezeki terus mengalir. Sekarang Opick sudah bisa naik haji dan mencicil rumah. Beratnya naik dari 45 kilogram ke 65 kilo dalam lima tahun. Makannya, dari sehari cuma dua kali, kini sudah tiga kali. "Modal saya ini," kata Opick menunjuk dengkulnya. "Yang penting ada kemauan dan istikamah."

Rohmat Haryadi dan Eric Samantha

(Rubrik Laporan Utama Gatra, No. 50 Tahun XI # 29 Oktober 2005)

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home